Sajak Terakhir

Aku selalu tersipu.
Aku selalu menunggu.
Aku selalu merindu.
Merindu, menunggu, tersipu kehadiran wanita itu.
Wanita itu kamu, sayangku.
Kamu yang sekarang membaca sajakku.
Maukah kau jadi pendampingku?
Dalam setiap sedih dan bahagiaku.
Aku harap begitu.
Apa yang aku tuliskan ini bukan bukti cintaku padamu.
Karena perlu seumur hidupku untuk membuktikan cintaku padamu.
Dariku, laki-laki yang ada di depanmu.
Wanita di depan itu berdiri. Sebelum dia akhirnya berlalu pergi, dia berkata dengan lembut : "Itu surat darinya. Laki-laki yang sama yang dulu menunggumu di kampus biru. Kalau kamu bertanya kenapa sekarang aku yang ada di depanmu, baris kesebelas dari surat itu adalah jawaban untukmu. Karena kini kau tak bisa lagi melihat kehadiran laki-laki itu."

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.